KemasBerita.com – Suasana Mapolda Sulawesi Selatan di Makassar pada Kamis (2/1/2025) mendadak ramai oleh kehadiran puluhan advokat yang tergabung dalam Gabungan Advokat Sulawesi Selatan (Sulsel).
Kehadiran mereka bukan tanpa alasan, melainkan untuk menyuarakan tuntutan keadilan atas kasus penembakan yang menewaskan rekan mereka, Rudi S. Gani, seorang pengacara asal Bone.
Rudi, yang dikenal sebagai sosok pengacara berdedikasi, tewas ditembak oleh orang tak dikenal (OTK) di kediamannya di Desa Pattuku Limpoe, Kecamatan Lapri, pada malam pergantian tahun. Tragedi ini tak hanya menyisakan luka mendalam bagi keluarganya, tetapi juga membangkitkan solidaritas rekan-rekannya.
“Kami menuntut keadilan. Kasus ini harus menjadi prioritas, bukan sekadar berita yang berlalu begitu saja,” tegas salah satu advokat.
Tak hanya itu, mereka juga menyatakan komitmen untuk terus mengawal kasus ini hingga tuntas. Bahkan, ancaman aksi solidaritas lebih besar telah disiapkan jika proses hukum dinilai berjalan lamban.
“Kami tidak akan tinggal diam. Jika kasus ini mandek, kami siap turun ke jalan untuk menyuarakan keadilan,” tambah salah seorang advokat.
Di sisi lain, Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Sulsel, Kombes Jamaluddin Farti, memastikan bahwa pihaknya telah membentuk tim gabungan untuk mengungkap kasus ini.
“Tim Resmob Polda Sulsel telah diterjunkan untuk mendukung Polres Bone dalam penyelidikan. Saat ini, jenazah korban sedang diautopsi di RS Bhayangkara Makassar untuk mendapatkan bukti forensik lebih lanjut,” ujarnya kepada wartawan.
Kombes Jamaluddin menegaskan bahwa penyelidikan dilakukan secara intensif agar pelaku segera tertangkap.
Peristiwa memilukan ini terjadi pada Selasa (31/12/2024) malam, saat Rudi tengah menikmati makan malam bersama istrinya, Maryam, di rumah mereka. Tiba-tiba, suara letusan senjata api mengejutkan keluarga tersebut.
Rudi ditemukan tergeletak dengan luka tembak di pipi kanannya. Meski sempat dilarikan ke puskesmas terdekat, nyawanya tak tertolong.
Saudara korban, Burhan S. Gani, mengungkapkan bahwa peluru yang bersarang di pipi kanan Rudi menjadi penyebab kematiannya. “Kami berharap pelaku segera ditemukan dan dihukum seadil-adilnya,” ucap Burhan dengan nada penuh haru.
Tragedi ini telah menggugah rasa solidaritas komunitas hukum di Sulawesi Selatan. Para advokat yang berkumpul di Mapolda Sulsel berjanji tidak akan berhenti hingga keadilan benar-benar ditegakkan.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa ancaman terhadap profesi hukum tidak boleh dianggap enteng. Keberanian mereka menuntut keadilan menjadi bukti bahwa solidaritas tak mengenal batas.
Editor:Hendra













