Metro

Positive Journalism, Ketika Berita Tidak Hanya Mengabarkan Masalah Tetapi Juga Solusi

×

Positive Journalism, Ketika Berita Tidak Hanya Mengabarkan Masalah Tetapi Juga Solusi

Sebarkan artikel ini

Kemasberita.com – Positive Journalism adalah pendekatan berita yang berfokus pada solusi, kemajuan, dan kisah inspiratif.

Pendekatan jurnalisme ini bukan saja informatif, tetapi juga memberi edukasi, inspirasi, dan membangun optimisme melalui pelaporan yang berwawasan ke depan, konstruktif, dan berbasis bukti.

Positive Journalism, yang disebut pula dengan istilah Constructive Journalism, Solutions Journalism, atau Good News Reporting, dilihat sebagai paradigma baru yang berfokus pada pelaporan berita yang berimbang, tidak hanya mengedepankan konflik, tetapi juga mengangkat solusi dan sisi baik dari suatu peristiwa.

BACA JUGA :  Viral Video “Srikandi” 7 Menit Hebohkan Dunia Maya, Warganet Dibuat Penasaran

Ada optimisme dan kepercayaan yang meningkat, bukan hanya bagi sekolah, tetapi juga terhadap kerja-kerja jurnalisme.

Dalam banyak kasus, model pendekatan Positive Journalism memberi manfaat karena fokus pada respons terhadap masalah (solution oriented), serta meningkatkan keterlibatan (engagement).

Berita-berita positif dan konstruktif akan menarik minat untuk dibaca, apalagi di era media sosial.

BACA JUGA :  SS Glow Up Kembali Bersinar! Sempat Down, Kini Buktikan Keamanan Produk

Mengapa bisa? Karena sekolah dan mereka yang diberitakan akan dengan senang hati membagikan praktik baik tentang pembelajaran dan program inovasi yang dilakukan melalui akun-akun medsosnya (Facebook, TikTok, Instagram, X) serta grup-grup WhatsApp sekolah, orangtua, keluarga, alumni, komunitas dan lain-lain sehingga meningkatkan pembacaan algoritma.

Dengan begitu, akan meningkatkan visibilitas konten, membangun reputasi positif, dan mendorong interaksi organik yang sehat.

BACA JUGA :  Teguran Kontroversial: Seskab Mayor Teddy Dikritik karena Larang Paspampres Payungi Prabowo

Pada gilirannya, berita dan konten Jurnalisme Positif akan memicu “deep engagement”, di mana berita/konten bukan sekadar diklik atau di-likes tetapi juga dibagikan dan disimpan sebagai arsip pengetahun, dokumentasi pengalaman, dan referensi yang inspiratif.

 

(RT/ID)